DUASISIinvestigasi.COM, Boalemo — Proyek Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Pentadu Barat yang menelan anggaran fantastis dari APBN menuai kecaman keras. Bukannya menjadi angin segar bagi perekonomian warga lokal, proyek dermaga dan tambatan perahu ini justru disemprot warga karena dinilai sebagai pengerjaan bobrok, “asal jadi”, dan berpotensi membuang-buang uang negara secara sia-sia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kritikan pedas ini dilayangkan langsung oleh pemuda sekaligus warga nelayan Pentadu Barat, Alfred Panigoro. Ia menegaskan bahwa asas manfaat dari pembangunan tersebut sangat jauh dari kenyataan yang dibutuhkan para nelayan di lapangan.
Cacat Konstruksi dan Dermaga ‘Bantet’
Perencanaan proyek ini dinilai asal-asalan tanpa memperhitungkan kondisi geografis laut setempat. Panjang dermaga yang dibangun terhenti di batas air dangkal, sebuah kekonyolan teknis yang dipastikan akan menyulitkan perahu maupun kapal nelayan saat hendak menyandarkan armadanya.
Tak hanya dermaga yang tidak fungsional, bangunan tambatan perahu pun memperlihatkan indikasi kuat kegagalan konstruksi:
– Beton Retak Dini: Belum juga rampung dikerjakan apalagi diresmikan oleh pejabat negara maupun daerah, lantai tambatan perahu sudah diwarnai retakan beton di berbagai titik.
– Elevasi Terlalu Rendah: Posisi lantai tambatan dibuat sangat rendah dan hampir menempel dengan permukaan pasir pantai, membuat struktur tersebut diyakini tak akan bertahan lama dihantam gelombang laut.
Lingkungan Kumuh dan Tumpukan Sampah
Dosa proyek ini makin lengkap dengan buruknya tata kelola lingkungan di sekitar lokasi. Tumpukan sampah dibiarkan menggunung dan mengepung area dermaga. Pemandangan kumuh ini terlihat makin mencolok saat air laut sedang surut, mencerminkan tidak adanya kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir.
Peringatan Keras dan Desakan Tindak APH
Atas berbagai kebobrokan tersebut, Alfred Panigoro melayangkan peringatan keras (warning) kepada pihak kontraktor pemenang proyek agar tidak menjadikan program strategis ini sebagai ladang pengerukan keuntungan semata lewat pengerjaan yang serampangan.
Mengingat dana yang dikucurkan menggunakan anggaran rakyat melalui APBN dalam jumlah yang sangat besar, Aparat Penegak Hukum (APH) didesak untuk segera turun ke lokasi dan mengusut tuntas indikasi penyimpangan fisik proyek KNMP di Pentadu Barat ini.
Harapan Murni Warga Nelayan
Di balik gelombang protes dan desakan pemeriksaan tersebut, Alfred menegaskan bahwa aksinya bersuara murni didasari oleh kepedulian mendalam terhadap nasib sesama nelayan. Ia menaruh harapan besar agar program KNMP ini tidak berakhir sebagai proyek ‘seumur jagung’ yang sia-sia, melainkan dievaluasi dan diperbaiki secara menyeluruh agar benar-benar kokoh serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan Pentadu Barat dalam jangka waktu yang panjang.
Masyarakat menuntut pertanggungjawaban nyata dari pihak penyedia jasa dan dinas terkait, agar dana APBN tidak menguap begitu saja menjadi monumen kegagalan proyek negara. RED













