DUASISIinvestigasi.COM, BONE BOLANGO – Ancaman kerusakan lingkungan di kawasan hulu Kabupaten Bone Bolango kini menjadi sorotan serius. Aktivitas pertambangan skala besar di Pegunungan Suwawa memunculkan kekhawatiran terhadap kelestarian hutan, keselamatan masyarakat, hingga terancamnya warisan sejarah perjuangan rakyat Gorontalo. Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Pusat pun didesak tidak tinggal diam, melainkan segera mengambil langkah konkret untuk mengevaluasi aktivitas pertambangan di kawasan tersebut.
Peringatan keras itu disampaikan tokoh masyarakat Suwawa, Fajar Wartabone, cucu Pahlawan Nasional H. Nani Wartabone. Ia menilai eksploitasi lahan oleh korporasi pertambangan, termasuk PT Gorontalo Minerals (PT GM), berpotensi menjadi “bom waktu” ekologis apabila tidak diimbangi pengawasan ketat dan langkah perlindungan lingkungan yang serius. Bagi Fajar, persoalan ini bukan semata-mata tentang aktivitas ekonomi dan kandungan emas, tetapi juga menyangkut ancaman bencana serta masa depan masyarakat Gorontalo.
Fajar menegaskan, hutan pegunungan Suwawa bukan sekadar bentangan pohon dan tanah yang mengandung emas, melainkan situs sejarah yang sakral. Pada zaman penjajahan, hutan yang lebat dan curam ini menjadi rumah sekaligus benteng pertahanan bagi pasukan rimba yang dipimpin oleh Nani Wartabone dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jika pembabatan hutan di hulu ini tidak segera dihentikan, maka nilai sejarah hutan yang menjadi saksi bisu perjuangan patriotik rakyat Gorontalo akan hilang selamanya. Menghancurkan hutan ini sama saja dengan menghapus jejak sejarah leluhur kami,” ujar Fajar dengan nada getir. Selasa, 20/10/26.
Lebih lanjut, dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas industri modern ini dinilai telah merusak stabilitas psikologis masyarakat lokal. Berbeda dengan masyarakat adat yang telah puluhan tahun menambang secara tradisional dengan metode manual tanpa merusak struktur hutan secara masif, kehadiran alat berat korporasi kini mengupas tuntas lapisan tanah di wilayah hulu.
Dampak pekatnya kerusakan lingkungan tersebut kini terpampang nyata di depan mata warga. Setiap kali awan hitam menggantung di langit Pegunungan Suwawa, kecemasan instan langsung melanda.
Warga di wilayah lingkar tambang Bone Bolango hingga masyarakat di hilir Kota Gorontalo kini dipaksa hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan bencana longsor dan banjir bandang luapan Sungai Bone yang bisa menerjang pemukiman mereka sewaktu-waktu.
Aliansi masyarakat adat, pemuda, dan aktivis lingkungan lokal menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat kekayaan alam dan memori sejarah tanah kelahiran mereka dikeruk habis demi keuntungan Oligarki.
Rakyat Nyatakan sikap akan terus bersatu mempertahankan nilai-nilai kekayaan alam dan sejarah yang melekat erat di dalam hutan Bone Bolango.
Mereka menuntut pemerintah pusat dan daerah segera melakukan audit total, meninjau kembali izin korporasi, serta memberikan keadilan ruang bagi masyarakat lokal melalui legalitas Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang berbasis pada kearifan lokal demi keselamatan masa depan Gorontalo. RED










