DUASISIinvestigasi.COM, Pohuwato — Sebuah ironi yang memprihatinkan terjadi di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu (25/10/2025) menyebabkan air dari gunung meluap dan menyebrangi jalan utama — satu-satunya akses vital masyarakat setempat. Fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan sinyal kerusakan ekologi yang semakin nyata.
Setiap kali hujan turun, arus air deras selalu mengalir dari arah gunung yang menjadi lokasi aktivitas perusahaan tambang Pani Gold. Air tersebut membawa material lumpur, pasir, dan batu kecil yang kemudian melintasi badan jalan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi keselamatan pengendara, terutama warga desa yang setiap hari bergantung pada jalur tersebut.
“Dulu air tidak pernah sampai melintas jalan seperti ini. Sekarang setiap hujan besar, kami takut lewat karena arusnya deras dan lumpur tebal,” ungkap seorang warga Hulawa yang enggan disebutkan namanya, dengan nada cemas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, jalan itu adalah satu-satunya akses keluar-masuk bagi masyarakat Hulawa dan sekitarnya. Jika setiap hujan deras menghadirkan ancaman seperti ini, maka lima tahun ke depan, jalan ini hampir pasti akan rusak parah, tergerus oleh limpasan air dari lereng gunung yang sudah kehilangan daya serap alaminya.
Kondisi tersebut memperlihatkan dampak nyata dari aktivitas penambangan terbuka yang mengikis vegetasi penahan air. Gunung yang dulu hijau kini terbuka lebar, tak lagi mampu menahan laju air hujan. Akibatnya, aliran deras yang membawa material tambang menjadi langganan setiap kali awan gelap menumpahkan air di kawasan itu.
Fenomena ini menjadi simbol paradoks pembangunan. Di satu sisi, tambang digadang sebagai motor ekonomi daerah; namun di sisi lain, keberadaannya justru menimbulkan ancaman bagi infrastruktur dan keselamatan warga. Alam seolah menagih harga dari eksploitasi yang dilakukan tanpa perhitungan ekologis.
Para pemerhati lingkungan memperingatkan, tanpa pengawasan ketat dan transparansi AMDAL, Desa Hulawa bisa menghadapi bencana ekologis lebih besar: erosi, longsor, bahkan terputusnya jalur transportasi vital.
Kini, setiap hujan yang turun bukan lagi sekadar anugerah, melainkan peringatan. Hulawa berdiri di ambang bahaya, di mana gunung yang digerogoti Pani Gold tak hanya kehilangan bentuknya, tetapi juga kehilangan fungsinya sebagai pelindung kehidupan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan pihak perusahaan tidak menutup mata terhadap kenyataan ini. Sebab, ketika gunung tak lagi mampu menahan airnya, maka yang akan hanyut bukan hanya tanah — melainkan juga harapan dan rasa aman warga di kaki Pani.
Red-DSI.COM










