Fakta di Balik Tragedi PETI Desa Bulangita Jadi Sorotan Publik

Jumat, 31 Oktober 2025 - 12:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DUASISIinvestigasi.COM, Pohuwato – Peristiwa longsor di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, pada Kamis (30/10/2025) sekitar pukul 11.00 Wita, menelan dua korban jiwa dan kini menjadi sorotan publik. Insiden ini kembali membuka mata banyak pihak terhadap bahaya aktivitas tambang ilegal yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Pohuwato.

Dua korban tewas dalam peristiwa ini masing-masing bernama Risman Abdul Azis (32), warga Desa Teratai, Kecamatan Marisa, dan Arfan Sumaila (36), warga Desa Marisa, Kecamatan Popayato. Keduanya diketahui tengah bekerja di area tambang yang disebut-sebut milik Ferdi Mardain, salah satu pihak yang menguasai beberapa titik lokasi tambang ilegal di Bulangita.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh di lapangan, sebelum kejadian kedua korban tengah memukul dan mengambil material batuan yang mengandung emas di dinding galian. Tanpa tanda-tanda sebelumnya, bagian atas tebing runtuh dan menimbun keduanya secara tiba-tiba.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Awalnya tidak ada tanda-tanda longsor. Mereka sedang ambil material, tiba-tiba tanah di atas roboh, tidak sempat lari,” ujar seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya.

Kedua korban langsung dievakuasi oleh rekan-rekan sesama penambang dan dibawa ke Rumah Sakit Bumi Panua Pohuwato. Namun pihak keluarga menolak dilakukan otopsi dan memilih membawa jenazah ke rumah duka masing-masing untuk dimakamkan.

Dari hasil penelusuran sementara, area tersebut merupakan bekas galian lama yang diduga sebelumnya pernah dikerjakan menggunakan alat berat. Saat ini, beberapa penambang kembali menggarap lokasi tersebut secara manual karena masih terdapat sisa material emas. Kondisi tanah yang labil menjadi salah satu faktor utama penyebab longsor.

“Itu bekas galian alat berat, sudah lama tidak digarap. Tapi karena masih ada sisa urat emas, mereka kembali masuk. Tanahnya sudah tidak kuat, banyak yang retak,” kata seorang penambang lokal.

Sumber lain menambahkan, aktivitas penambangan di wilayah Bulangita sudah berlangsung cukup lama dan sebagian di antaranya berada di area yang tidak lagi aman untuk digarap. Beberapa titik bekas galian terlihat menganga tanpa pengamanan maupun penataan kembali.

Fakta-fakta di lapangan memperlihatkan bahwa meski sering terjadi insiden serupa, aktivitas PETI di beberapa desa sekitar Marisa masih terus berlangsung. Kebutuhan ekonomi masyarakat yang tinggi serta lemahnya pengawasan di lapangan membuat penambangan ilegal sulit dihentikan.

Kini, peristiwa ini menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat Pohuwato. Banyak yang menilai bahwa tragedi tersebut adalah bentuk nyata dari abainya keselamatan dan lemahnya kesadaran terhadap risiko di kawasan bekas galian tambang.

Di balik tragedi ini, terungkap realitas getir tentang dunia PETI yang masih menjadi magnet ekonomi bagi masyarakat desa. Di satu sisi, tambang ilegal menjadi ruang harapan bagi mereka yang tersisih dari sistem ekonomi formal. Namun di sisi lain, ia juga menjelma menjadi ladang maut — tempat di mana keselamatan kerap dikorbankan demi sejumput logam mulia.

Hingga saat ini, tim dari media Dua Sisi masih menelusuri fakta lain di lapangan, termasuk memastikan apakah pada saat kejadian terdapat aktivitas alat berat di lokasi atau tidak.

Tragedi Bulangita menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi pengingat bahwa di balik kilauan emas, selalu ada risiko besar yang mengintai nyawa para penambang kecil. Fakta-fakta di lapangan kini tengah ditelusuri lebih lanjut untuk mengungkap kondisi sebenarnya di lokasi kejadian.

Red-DSI.COM

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Semarak HUT AKPERSI ke-2 dan KLTV ke-6, DPC AKPERSI se-Kalbar Resmi Dilantik, Santunan Anak Yatim Warnai Peringatan
Jefry Yoker Taha Apresiasi Kesuksesan HUT RI ke-81 di Jalteng
BNNP Gorontalo Perkuat Gerakan Bersama: Edukasi, Rehabilitasi hingga Pemberantasan Menuju Gorontalo BERSINAR
APBN Besar, Hasil Dipertanyakan: Proyek KNMP Pentadu Barat Menuai Gelombang Kritik
YL Bantah Keterlibatan di Lokasi Longsor PETI DAM Hulawa
Ketua Umum DPP AKPERSI Apresiasi Kapolres Purworejo, Hukum Harus Jadi Panglima
Lima Penambang Tertimbun Longsor PETI DAM Hulawa, Muncul Informasi Korban Lain Masih Tertimbun
Wali Kota Gorontalo Resmikan Gedung Pelayanan Baru RS Multazam, Tandai Satu Dekade Pengabdian di Bidang Kesehatan
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:23 WITA

Semarak HUT AKPERSI ke-2 dan KLTV ke-6, DPC AKPERSI se-Kalbar Resmi Dilantik, Santunan Anak Yatim Warnai Peringatan

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:14 WITA

Jefry Yoker Taha Apresiasi Kesuksesan HUT RI ke-81 di Jalteng

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:11 WITA

BNNP Gorontalo Perkuat Gerakan Bersama: Edukasi, Rehabilitasi hingga Pemberantasan Menuju Gorontalo BERSINAR

Kamis, 20 Agustus 2026 - 11:33 WITA

APBN Besar, Hasil Dipertanyakan: Proyek KNMP Pentadu Barat Menuai Gelombang Kritik

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:21 WITA

Ketua Umum DPP AKPERSI Apresiasi Kapolres Purworejo, Hukum Harus Jadi Panglima

Berita Terbaru

Advertorial

Jefry Yoker Taha Apresiasi Kesuksesan HUT RI ke-81 di Jalteng

Senin, 24 Agu 2026 - 10:14 WITA